Selasa, 10 Januari 2012

ALK: Manajemen Laba


LATIHAN 6-13
a.       Manajer memiliki motivasi dalam manajemen laba, dimana menerima opsi saham dengan harga pengambilan hak beli atas saham perusahaan yang menguntungkan. Para manajer perusahaan mempengaruhi harga pasar saham melalui informasi keuangan perusahaan dengan melaporkan kinerja perusahaan yang menurun dari periode sebelumnya. Penurunan kinerja perusahaan merupakan bentuk berita buruk  bagi pasar dan sangat berpengaruh pada jumlah permintaan dan penawaran terhadap saham perusahaan yang mengarah pada kelebihan penawaran dibandingkan dengan permintaan. Kondisi tersebut akan menurunkan harga pasar saham perusahaan seperti yang diharapkan oleh para manajer perusahaan. Dengan begitu manajer bisa melaporkan labanya yang rendah sehingga pajak yang dibayarkan juga rendah. Keadaan ini akan menguntungkan pihak manajer yang memiliki kepentingan tertentu dengan harga pasar saham tersebut. Karena manajer memiliki motivasi agar harga saham turun sehingga manajer dapat memiliki saham perusahaan dengan harga rendah sampai dengan berita baik dikeluarkan, dan ketika harga saham naik, manajer dapat menjual saham tersebut dengan harga yang tinggi.
b.      Pengumuman berita sekitar tanggal penetapan harga eksekusi opsi saham dapat diartikan analis bahwa tidak ada berita buruk yang akan cukup mempengaruhi harga saham. Atau analis dapat menduga bahwa akan ada berita baik setelah tanggal eksekusi opsi saham.
LATIHAN 6-15
Target manajemen laba yang membuat perusahaan ingin mengatur laba per lembar saham:
1.      Motivasi pajak, dimana pajak merupakan salah satu alasan utama perusahaan mengurangi laba bersih. Semakin kecil laba bersih, semakin kecil pula pajak yang dilaporkan dan dibayar.
2.      Motivasi pasar modal, hal ini dilakukan dengan meratakan laba yang dilaporkan untuk tujuan pelaporan eksternal (income smoothing), terutama bagi investor karena pada umumnya investor lebih menyukai laba yang relative stabil. Hal tersebut didasarkan pada informasi laba dan reaksi harga saham di pasar modal terhadap pelaporan laba. Harga saham cenderung naik apabila laba yang dilaporkan lebih besar dari laba yang diharapkan, sebaliknya harga saham cenderung turun apabila laba yang dilaporkan lebih kecil daripada laba yang diharapkan.



SOAL 6-1
        Tahun 8
        Tahun 7
Penjualan
775.00
600.00
Harga pokok dan beban
(657.00)
(576.00)
Pendapatan sebelum pajak
118.00
24.00
Biaya pajak 50%
59.00
12.00
Pendapatan dari operasi yang masih berlangsung
59.00
12.00
Laba (rugi) penghentian operasi
(9.00)
8.00
Laba bersih
50.00
20.00

ETIKA DALAM AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUNTANSI MANAJEMEN




I.       Akuntansi Keuangan dan Tanggung Jawab Seorang Akuntan Keuangan
Akuntansi keuangan merupakan bidang akuntansi yang mengkhususkan fungsi dan aktivitasnya pada kegiatan pengolahan data akuntansi dari suatu perusahaan dan penyusunan laporan keuangan untuk memenuhi kebutuhan berbagai pihak, yaitu pihak internal dan eksternal. Oleh karena tujuan akuntansi keuangan adalah menyediakan informasi kepada pihak yang berkepentingan, maka laporan keuangan harus bersifat umum sehingga dapat diterima oleh semua pihak yang berkepntingan. Laporan keuangan yang dimaksud harus mampu menunjukkan keadaan keuangan dan hasil usaha perusahaan.
Laporan keuangan tersebut harus mampu memberikan suatu rangkaian historis informasi dari sumber-sumber ekonomi, dan kewajiban-kewajiban perusahaan, serta kegiatan-kegiatan yang mengabaikan perubhan terhadap sumber-sumber ekonomi dan kewajiban-kewajiban tersebut, yang dinyatakan secara kuantitatif dengan satuan mata uang.
Seorang akuntan keuangan bertanggung jawab untuk:
a.      Menyusun laporan keuangan dari perusahaan secara integral, sehingga dapat digunakan oleh pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan dalam pengambilan keputusan.
b.      Membuat laporan keuangan yang sesuai dengan karakterisitk kualitatif laporan keuangan (IAI, 2004) yaitu dapat dipahami, relevan, materialitas, keandalan (penyajian yang jujur, substansi mengungguli bentuk, netralitas, pertimbangan sehat, kelengkapan), dapat diperbandingkan, kendala informasi yang relevan dan handal (tepat waktu, keseimbangan antara biaya dan manfaat, keseimbangan di antara karakterisitk kualitatif), serta penyajian yang wajar.
II.     Akuntansi Manajemen dan Tanggung Jawab Seorang Akuntan Manajemen
Definisi Akuntansi Manajemen menurut IAI adalah suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, pengakumulasian, penganalisisan, penyediaan, penginterpretasian, dan pengkomunikasian informasi keuangan yang dilakukan oleh personel organisasi dan digunakan untuk menyusun rencana strategic dan operasional, mengimplementasikan dan memantau pelaksanaannya, serta untuk meyakinkan pemanfaatan dan akuntabilitas sumber daya organisasi sebagaimana mestinya. Tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang akuntan manajemen lebih luas dibandingkan tanggung jawab seorang akuntan keuangan, yaitu:
1.      Perencanaan, menyusun dan berpartisipasi dalam mengembangkan sistem perencanaan, menyusun sasaran-sasaran yang diharapkan, dan memilih cara-cara yang tepat untuk memonitor arah kemajuan dalam pencapaian sasaran.
2.      Pengevaluasian, mempertimbangkan implikasi-implikasi historical dan kejadian-kejadian yang diharapkan, serta membantu memilih cara terbaik untuk bertindak.
3.      Pengendalian, menjamin integritas informasi finansial yang berhubungan dengan aktivitas organisasi dan sumber-sumbernya, memonitor dan mengukur prestasi, dan mengadakan tindakan koreksi yang diperlukan untuk mengembalikan kegiatan pada cara-cara yang diharapkan.
4.      Menjamin pertanggungjawaban sumber, mengimplementasikan suatu sistem pelaporan yang disesuaikan dengan pusat-pusat pertanggungjawaban dalam suatu organisasi sehingga sistem pelaporan tersebut dapat memberikan kontribusi kepada efektifitas penggunaan sumber daya dan pengukuran prestasi manajemen.
5.      Pelaporan eksternal, ikut berpartisipasi dalam proses mengembangkan prinsip-prinsip akuntansi yang mendasari pelaporan eksternal.
Ada empat standar etika untuk akuntan manajemen yaitu:
1.    Kompetensi, artinya dia harus memelihara pengetahuan dan keahlian yang sepantasnya, mengikuti hukum, peraturan dan standar teknis, dan membuat laporan yang jelas dan lengkap berdasarkan informasi yang dapat dipercaya dan relevan.
2.    Confidentiality, mengharuskan seorang akuntan manajemen untuk tidak mengungkapkan informasi rahasia kecuali ada otorisasi dan hukum yang mengharuskan untuk melakukan hal tersebut.
3.    Integrity, mengharuskan untuk menghindari “conflicts of interest”, menghindari kegiatan yang dapat menimbulkan prasangka terhadap kemampuan mereka dalam menjunjung etika. Mereka juga harus menolak pemberian dan hadiah yang dapat mempengaruhi tindakan mereka. Mereka juga tidak boleh menjatuhkan legitimasi perusahaan, tetapi harus mengakui keterbatasan profesionalisme mereka, mengkomunikasikan informasi yang menguntungkan atau merugikan, dan menjauhi diri dari prilaku yang dapat mendiskreditkan profesi mereka.
4.    Objectifity, mengharuskan para akuntan untuk mengkomunikasikan informasi secara wajar dan objektif, mengungkapan secara penuh (fully disclose) semua informasi relevan yang diharapkan dapat mempengaruhi pemahaman user terhadap pelaporan, komentar dan rekomendasi yang ditampilkan.
IV.  Whistle Blowing
Seringnya manajemen melakukan tindakan melanggar etika adalah karena mereka merasa bahwa tindakan tersebut dapat menolong perusahaan, dan perusahaan akan melindungi mereka. Hal ini memicu suatu isu yaitu whistle blowing (meniup peluit), dimana terdapat kebijakan perusahaan untuk tidak menyajikan adanya konflik kepentingan (conflict of interest) dalam laporan mereka. Whistle Blowing adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa karyawan untuk membocorkan kecurangan, baik yang dilakukan oleh perusahaan maupun atasannya kepada pihak lain.
Whistle blowing terjadi ketika seorang pegawai memberitahukan kepada umum, siapa yang telah melanggar hukum di dalam perusahaannya. Pegawai yang melakukan whistle blowing dilindungi oleh hukum. Jika dia dipecat atau dibalas maka dia dapat menuntut. Orang yang melakukan whistle blowing harus mempublikasikannya kepada pihak diluar perusahaan, kepada pemerintah atau badan hukum. Jika dia hanya melaporkan pelanggaran tersebut di dalam perusahaan, maka hal tersebut bukanlah whistle blowing, dan dia tidak akan mendapatkan perlindungan hukum  Seseorang dapat melakukan whistle blowing pada sesuatu yang melanggar hukum (ilegal). Tetapi dia harus yakin dan pasti, bahwa apa yang dilaporkannya memang melanggar hukum dan beralasan. Atasan tidak dapat membalas atau memecat seseorang karyawan yang melakukan whistle blowing  karena alasan dia telah melakukan whistle blowing, tetapi tidak berarti juga pegawai tersebut kebal atau tidak dapat dipecat (karena alasan lain).

ETIKA DALAM PRAKTIK AUDITING DAN ETIKA DALAM PRAKTIK KONSULTAN MANAJEMEN


A. Etika dalam praktik auditing
Pelaksanaan  tugas  audit,  seorang auditor  dituntut  untuk  bersikap  dan bertindak  independen  dan  objektif. Independen  berarti  bebas  dari  pengaruh, tidak  dikendalikan atau tidak  tergantung  kepada pihak lain termasuk memberi  penugasan.  Objektif berarti  sikap  tidak  memihak  dalam mempertimbangkan fakta. Objektivitas lebih banyak ditentukan faktor dari dalam diri auditor, sedangkan independensi  selain  ditentukan  faktor  dari  dalam  diri auditor, juga banyak ditentukan oleh faktor dari luar diri auditor. Independensi dalam audit mencakup independensi dalam  perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan:
a.       Independensi  dalam  perencanaan  audit  berarti  bebas  dari  pengaruh manajemen  dalam  menerapkan  prosedur  audit,  menentukan  sasaran  dan ruang lingkup audit. 
b.      Independensi dalam pelaksanaan berarti bebas dalam mengakses aktivitas yang akan diaudit.
c.       Independensi pelaporan berarti bebas dari usaha untuk menghilangkan atau memengaruhi makna laporan serta bebas untuk mengungkapkan fakta.
Kerangka kerja kembali kepada empat aktivitas dasar yang dibutuhkan untuk mengevaluasi independensi auditor, yaitu: 
            a.       Prinsip 1. Menentukan Level Resiko Independensi: pengambil keputusan harus menilai level resiko          independensi dengan mempertimbangkan tipe dan signifikansi ancaman bagi independensi auditor dan tipe efektivitas perlindungan.
  1. Prinsip 2. Menentukan Penerimaan Level Resiko Independensi: Setelah menilai level resiko maka auditor perlu menentukan apakah level independensi adalah sebuah posisi yang dapat diterima pada kontinum resiko independensi.
  2. Prinsip 3. Memperhatikan Keuntungan Dan Biaya: Independensi pengambil keputusan harus memastikan bahwa keuntungan yang dihasilkan dari mengurangi resiko independensi menimbulkan perlindungan tambahan melebihi biaya perlindungan.
  3. Prinsip 4. Memperhatikan Pandangan Pihak-Pihak Yang Tertarik Dalam Mengalamatkan Isu Independensi Auditor: independensi pengambil keputusan harus memperhatikan pandangan dari investor dan harus memecahkan isu berdasarkan keputusan pengambil keputusan tentang bagaimana memenuhi tujuan independensi auditor.
Sikap  independen  auditor  pada  dasarnya  sangat  tergantung  pada  diri auditor  sendiri. Secara etika, auditor yang independen harus dapat memosisikan dirinya, agar dapat memperoleh kepercayaan dari  masyarakat  atau  pihak lain melalui sikap dan  tindakan nyata yang dapat dirasakan oleh pihak lain tersebut, misalnya dengan  menolak penugasan audit bila menemui kondisi berikut:
a.       Terdapat hubungan istimewa antara auditor dengan auditi/ aktivitas auditi.
b.      Terjadi pembatasan ruang lingkup, sifat dan luas audit.
c.       Tidak  memiliki  kemampuan untuk  memahami  aktivitas  yang  akan  diaudit sehingga dapat  memengaruhi  sikap independensi, misalnya: tidak memahami kejahatan di bidang komputer.
d.      Auditor tidak dapat independen karena posisi auditor dalam organisasi auditi.
B. Etika dalam praktik konsultan manajemen
Setiap profesi yang menyediakan jasanya kepada masyarakat memerlukan kepercayaan dari masyarakat yang dilayaninya. Kepercayaan masyarakat terhadap mutu jasa konsultan manajemen akan menjadi lebih tinggi jika profesi tersebut menerapkan standar mutu tinggi terhadap pelaksanaan pekerjaan profesional yang dilakukan oleh anggota profesinya. Tujuan konsultan manajemen adalah memenuhi tanggung-jawabnya dengan standar profesionalisme tertinggi, mencapai tingkat kinerja tertinggi, dengan orientasi kepada kepentingan publik. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat empat kebutuhan dasar yang harus dipenuhi:
  1. Kredibilitas. Masyarakat membutuhkan kredibilitas informasi dan sistem informasi.
  2. Profesionalisme. Diperlukan individu yang dengan jelas dapat diidentifikasikan oleh pemakai jasa konsultan sebagai profesional di bidangnya.
  3. Kualitas Jasa. Terdapatnya keyakinan bahwa semua jasa yang diperoleh diberikan dengan standar kinerja tertinggi.
  4. Kepercayaan. Pemakai jasa konsultan manajemen harus dapat merasa yakin bahwa terdapat kerangka etika profesional yang melandasi pemberian jasanya.

TATA KELOLA ETIS DAN AKUNTABILITAS



Kegagalan Enron, WorldCom, KAP Arthur-Andersen merupakan pemicu tentang harapan baru dalam tata kelola dan akuntabilitas di Amerika. Para politisi Amerika menciptakan kerangka tata kelola dan akuntabilitas baru yang dikenal dengan Sarbanes-Oxley Act untuk memulihkan kembali kepercayaan masyarakat dan memfokuskan kembali tata kelola perusahaan pada tanggung jawab direksi terhadap kewajiban fidusia mereka terhadap kepentingan shareholders dan masyarakat.
I. Ancaman Bagi Tata Kelola Perusahaan dan Akuntabilitas yang Baik
1.      Salah mengartikan tujuan dan kewajiban fidusia
Pada kasus Enron, perusahaan melakukan manipulasi untuk keuntungan jangka pendek yang ternyata berakibat fatal bagi perusahaan itu sendiri.
2.      Kegagalan untuk mengidentifikasi dan mengelola resiko etika.
Resiko etika terjadi ketika terdapat kemungkinan ekspektasi stakeholder tidak terpenuhi. Menemukan resiko etika penting untuk menghindari kehilangan dukungan dari stakeholder.
3.      Konflik kepentingan
Konflik kepentingan terjadi ketika penilaian indepenpen atau pengambilan keputusan seseorang goyah atau ada kemungkinan goyah karena adanya kepentingan lain yang bergantung pada penilaian tersebut. Sumber utama konflik kepentingan adalah hubungan dan keluarga dan kepentingan ekonomi.

II. Elemen Penting dari Tata Kelola dan Akuntabilitas
Mengembangkan, menerapkan, dan Kode Etik Mengelola Budaya Direktur, pemilik, dan manajemen senior dalam proses mewujudkan bahwa mereka dan karyawan mereka perlu memahami bahwa: ”Organisasi organisasi akan lebih baik jika memperhatikan kepentingan stakeholder, dan bukan hanya shareholder dan dalam membuat keputusan mempertimbangkan nilai etis yang penting.”

III. Menurut Murphy, tiga pendekatan yang dapat diterapkan untuk menanamkan prinsip-prinsip etika ke dalam bisnis, yaitu:
1.       Credo perusahaan yang mendefinisikan dan mengarahkan kepada nilai-nilai perusahaan.
Credo adalah pernyataan ringkas dari penyerapan nilai-nilai suatu perusahaan
a.        Credo dapat diinterpretasikan dengan simple sebagai sebuah pernyataan misi dari organisasional, bukan sebagai sebuah dokumen
b.       Credo tidak dapat didudukkan dalam waktu yang cukup lama sehingga belum dapat dinilai.
2.       Program etika dimana perusahaan berfokus pada isu-isu etika
Program etika menyediakan petunjuk yang lebih detail untuk menyelesaikan masalah etika yang potensial daripada credo umum.
3.       Kode etik yang memberikan panduan spesifik untuk karyawan di area bisnis fungsional
Kode etika adalah mekanisme structural perusahaan yang digunakan sebagai tanda komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip etika. Mekanisme dirasakan sebagai cara yang paling efektif untuk mendukung kebiasaan etika bisnis. Kode etika biasanya membahas isu-isu seperti konflik kepentingan, kompetitor, privasi, pemberian dan penerimaan pemberian, dan kontribusi politik.
Penelitian Murphy tentang etika dalam manajemen menghasilkan kesimpulan yang harus diingat manajer perusahaan yaitu:
1.      Tidak ada pendekatan ideal tunggal untuk etika perusahaan.
Rekomendasinya dimulai dari perusahaan kecil dengan  sebuah credo dan juga sebuah perusahaan besar dengan mempertimbangkan program yang disesuaikan. Hal itu dimungkinkan untuk mengintegrasikan program-program dan menghasilkan sebuah hybrid contohnya dalam berurusan dengan insider trading.
  1. Manajemen puncak harus berkomitmen.
Manajer senior harus memenangkan rancangan etika tertinggi bagi perusahaan mereka. Komitmen ini tampak jelas  melalui pernyataan keras dan jelas dalam surat CEO, laporan, dan pernyataan publik
  1. Pengembangan suatu struktur tidak cukup untuk perusahaan itu sendiri.
Struktur tidak akan berguna jika tidak didukung oleh proses manajerial. Credo pertemuan pada Security Pasific dan seminar di Chemical Bank adalah contoh dari proses yang mendukung struktur.
  1. Meningkatkan kesadaran etis dari suatu organisasi tidak mudah
Banyak perusahaan yang telah menghabiskan waktu dan uang untuk mengembangkan, mendiskusikan, merevisi, dan mengkomunikasikan prinsip-prinsip etika perusahaan. dan pada kenyataannya itu semua tidak menjamin peningkatan kesadaran etis

Mengelola Resiko Etika dan Manajemen Krisis



A. Resiko Etika
Resiko Etika merupakan suatu kemungkinan dilanggarnya etika yang disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan atau institusi dalam memenuhi harapan stakeholder. Supaya suatu organisasi atau perusahaan tetap dapat bertahan hidup, perusahaan dan professional wajib menjalankan manajemen resiko etika. Secara singkat, pengertian manajemen resiko etika adalah tata kelola yang menjunjung kode etik sehingga dapat meminimalisasi ketidak mampuan perusahaan dalam memenuhi harapan stakeholder. Ragam resiko etika dalam kaitannya dengan stakeholder:
Harapan stakeholder yang tidak dapat dipenuhi
ResikoEtika
Pemegang saham
- Adanya perilaku penggelapan dana dan asset.
- Adanya konflik kepentingan dengan para eksekutif perusahaan
- Tingkatan performa perusahaan yang tidak sesuai
       dengan keinginan para pemegang saham.
- Keakuratan dan transparasi laporan keuangan.

Kejujuran dan integritas. Pertanggung jawaban
yang dapat diprediksi. Kejujuran dan pertanggungjawaban.
Kejujuran dan Integritas.

Karyawan
- Keamanan Kerja
- Pembedaan
- Mempekerjakan anak dibawah umur dan pemerasan tenaga buruh.

Kewajaran
Keadilan
Keadilan dan perlakuan kasih sayang
Pelanggan
-Keamanan Produk
-Performa Perusahaan

Keterbukaan.
Kewajaran.
Lingkungan
-Terciptanya Polusi

Integritas dan
Pertanggungjawaban.
            Dengan adanya resiko etika tersebut, maka manajemen perlu menerapkan pengelolaan atau manajemen yang berfokus pada pemenuhan kepentingan stakeholder.

B. Manajemen Resiko Etika
Dalam menerapkan manajemen resiko etika, terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan oleh para investigator perusahaan, yaitu:
1. Mengidentifikasi dan Menilai Resiko Etika
    Identifikasi Penilaian resiko etika dibagi menjadi beberapa tahap:
a.   Melakukan penilaian dan identifikasi para stakeholder perusahaan.
Tahap ini investigator manajemen membuat daftar mengenai siapa dan apa saja para stakeholder yang berkepentingan beserta harapan mereka. Setelah mengetahui siapa saja para stakeholder dan apa kepentingannya serta harapan mereka, maka manajemen dapat melakukan penilaian dalam pemenuhan harapan stakeholder. Investigator hendaknya memiliki pemahaman mengenai bentuk kepentingan stakeholder mana saja yang sensitif dan penting, dan kenapa hal itu penting bagi stakeholder
b.   Mempertimbangkan kemampuan aktivitas perusahaan dengan ekspektasi stakeholder, dan menilai risiko ketidak sanggupan dalam memenuhi ekspektasi stakeholder atau menilai adanya kemungkinan peluang untuk berprestasi lebih dari yang diharapkan.
Saat mempertimbangkan apakah ekspektasi telah terpenuhi, maka manajemen wajib membuat perbandingan di antara input, output, kualitas relevan dan variabel kinerja lainnya.
c.   Meninjau ulang perbandingan akitivitas dan ekspektasi perusahaan dari perspektif dampak reputasi perusahaan.
Reputasi tergantung pada empat faktor, yaitu kejujuran, kredibilitas, reliabilitas, dan tanggung jawab. Faktor-faktor tersebut bisa menjadi kerangka kerja dalam melakukan perbandingan.
d.   Melakukan pelaporan.
Setelah tahap ketiga selesai, maka manajemen dapat menyiapkan laporan kepada masing-masing stakeholder. Laporan tersebut harus dibuat dengan mempertimbangkan kelompok stakeholder, produk atau jasa, tujuan perusahaan, nilai-nilai hypernorm, dan elemen-elemen penentu reputasi.
2. Penerapan strategi dan taktik dalam membina hubungan strategis dengan stakeholder.
Pendekatan yang dapat diterapkan adalah berfokus pada kemungkinan apakah para stakeholder tersebut bisa dengan mudah bekerja sama dengan perusahaan ataukah cenderung sulit bekerja sama dan menjadi ancaman bagi perusahaan.
3.      Akuntabilitas sosial dan audit.
Audit dan akuntabilitas sosial dimaksudkan untuk mereview perkembangan yang harusnya terbukti benar dalam memutuskan apa yang harus diukur, pelaporan pihak lain, dan langkah audit yang mungkin diambil untuk memastikan akurasi informasi yang dihasilkan dan dilaporkan.




Analisis Laporan Keuangan 4-5


Q 4-1
Perusahaan umumnya melaporkan saldo kompensasi yang diisyaratkan oleh perjanjian pinjaman sebagai kas yang dibatasi dan diklasifikasi sebagai aset lancar.
a.       Apakah klasifikasi ini berguna untuk tujuan analisis laporan keuangan? Jelaskan.
Saldo kompensasi merupakan jumlah saldo minimum yang harus dipertahankan di bank, jumlah ini digunakan sebagai jaminan peminjaman di bank. Pemakai statemen keuangan membutuhkan informasi tentang saldo kompensasi sebab jumlah tersebut membatasi jumlah kas yang dapat dibelanjakan oleh perusahaan setiap hari. Oleh karena itu, saldo kompensasi harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan perusahaan. Klasifikasi sebagai aktiva lancar jika kas selalu tersedia untuk digunakan dalam operasi saat ini.
b.      Cara mengevaluasi saldo kompensasi
Untuk mengevaluasi saldo kas kompensasi, dapat dilakukan dengan mengevaluasi saldo kas secara keseluruhan dan mengevaluasi catatan atas laporan keuangannya yang menjelaskan jumlah kas yang dibatasi penggunaanya tersebut. Selain itu juga melakukan konfirmasi kepada bank bahwa terdapat perjanjian kredit yang mengharuskan peminjam mempertahankan saldo kas di bank.
C 4-2
a.       Hitung laba setelah pajak  Falcon.Com secara terpisah dengan metode penilaian persediaan (1) FIFO dan (2) LIFO dengan mengasumsikan perusahaan tidak mengeluarkan beban lain selain harga pokok penjualan dan tarif pajaknya sebesar 50%. Pajak diakui pada periode berjalan dan dibayar pada tahun berikutnya.
1.      Metode FIFO
Penjualan   (1.000 unit x $1,70)                     $ 1.700
HPP        (1.000 unit x $ 1,00)                       $ 1.000
Laba Kotor                                                   $   700
Pajak 50%                                                    $   350
Laba setelah pajak                                         $   350
2.      Metode FIFO
Penjualan   (1.000 unit x $1,70)                     $ 1.700
HPP        (1.000 unit x $ 1,50)                       $ 1.500
Laba Kotor                                                   $   200
Pajak 50%                                                    $   100
Laba setelah pajak                                         $   100

b.      Jika seluruh penjualan dan pembelian dilakukan secara tunai, buatlah neraca akhir tahun baik untuk metode penilaian persediaan (1) FIFO maupun (2) LIFO.
Neraca Akhir Tahun Metode FIFO
Kas

200




Persediaan
1,500

Total Ekuitas
1,700
Total Aset
1,700





Neraca Akhir Tahun Metode LIFO
Kas

200




Persediaan
1,000

Total Ekuitas
1,200
Total Aset
1,200





c.       Jabarkan perbedaan kedua metode penilaian persediaan untuk menentukan laba dan posisi keuangan selama periode harga meningkat.
1.      Metode FIFO
Dalam keadaan inflasi, metode FIFO menyajikan laba yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode LIFO, laba yang tinggi disebabkan harga pokok persediaan yang lebih rendah, dengan laba yang tinggi menyebabkan kas keluar untuk pembayaran pajak juga tinggi dan jumlah persediaan yang disajikan dalam neraca juga tinggi.
2.      Metode LIFO
Dalam keadaan inflasi, metode LIFO menyajikan laba yang lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO, laba yang lebih rendah disebabkan harga pokok persediaan yang lebih tinggi, dengan laba yang lebih rendah menyebabkan kas keluar untuk pembayaran pajak juga lebih rendah dan jumlah persediaan yang disajikan dalam neraca juga rendah.
d.      Masalah apa yang dimiliki metode LIFO dalam pembuatan dan analisis laporan keuangan sementara?
1.      Laba Menurun
         Penggunaan metode LIFO pada masa inflasi dapat menyebabkan penurunan laba.
2.      Saldo persediaan yang tidak realistis pada neraca
      Pada masa inflasi jumlah persediaan yang disajikan dalam neraca tidak mencerminkan nilai persediaan dengan kondisi terbaru, karena nilai persediaan tersebut jauh dibawah harga pasar saat ini.
3.      Laba yang tidak diantisipasikan karena kuantitas persediaan tidak dipertahankan
      Manfaat laba yang diikhtisarkan di atas akan menjadi kenyataan hanya jika tingkat kuantitas persediaan dipertahankan. Jika kuantitas persediaan akhir menurun, biaya LIFO yang terhapus akan dibebankan ke pendapatan periode berjalan. Jika biaya persediaan jauh lebih rendah daripada nilai ganti saat ini, laba yang dilaporkan secara semu akan meningkat karena tingkat persediaan tidak dipertahankan.
4.      Asumsi arus perusahaan yang tidak realistis
      Pembebanan biaya yang dihasilkan dari penggunaan LIFO biasanya tidak dapat dijadikan alat untuk memperkirakan gerakan fisik barang dalam perusahaan.

E 5-5
a.  Masing-masing perusahaan perlu memiliki catatan akuntansi yang terpisah karena masing-masing perusahaan yang tergabung dalam penggabungan usaha wajib melaporkan hasil kegiatan operasionalnya supaya induk perusahaan dapat mengetahui apakah anak perusahaan mengalami laba/rugi. Selain itu supaya dapat membuat laporan keuangan konsolidasi yang menggabungkan aset, kewajiban, pendapatan, dan beban anak perusahaan dengan pos yang berhubungan dengan laporan keuangan perusahaan induk.
b. Identifikasi jenis laporan keuangan yang disiapkan masing-masing perusahaan untuk pelaporan keuangan.
1.      Laporan keuangan induk perusahaan (X): Laporan Laba Rugi Konsolidasi, Laporan Laba ditahan, Neraca Konsolidasi, Laporan Arus Kas Konsolidasi
2.      Laporan keuangan anak perusahaan (C1, C2 dan C3): Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca, Laporan Arus Kas, Catatan atas Laporan Keuangan, Jenis informasi keuangan yang diminta.
c.   Jika saya memiliki kemampuan untuk memaksakan keinginan kepada manajemen, maka saya akan meminta informasi keuangan terpisah tentang perusahaan-perusahaan tersebut, karena saya ingin melihat kondisi keuangan masing-masing perusahaan, baik itu induk maupun anak perusahaan.
d. Perusahaan X memiliki kendali penuh atas anak perusahaannya. Sehingga dalam teori perusahaan X, asset perusahaan C1 dikonsolidasikan mula-mula pada nilai bukunya, ditambah dengan bagian perusahaan induk dari kelebihan nilai wajar aktiva atas nilai bukunya. Dengan kata lain, asset anak perusahaan dinilai kembali hanya sebatas pengambailan asset bersih (termasuk goodwill) oleh perusahaan induk. Seluruh asset bersih perusahaan anak yang dikonsolidasi pada nilai wajarnya yang berdasarkan harga yang dibayarkan oleh perusahaan induk untuk kepemilikannya. Sehingga kepemilikan mayoritas atas aset bersih dinilai dengan konsisten.
e.   Akun-akun C2 harus dikonsolidasikan secara total dan karena yang dimiliki oleh induk hanya 80% maka 20% nilai anak perusahaan merupakan milik pemegang saham minoritas dan ini harus diakui dalam laporan konsolidasian.
f.        Agregasi:
Laporan keuangan yang dikonsolidasi menggabungkan aset, kewajiban, pendapatan dan beban anak perusahaan dengan pos yang berhubungan dengan laporan keuangan PT. X.
Eliminasi:
Mengeliminasi transaksi antar perusahaan (atau pos resiprokal) untuk menghindari penghitungan ganda (double counting) atau laba yang diakui premature.
g.       Kepemilikan 100% perusahaan C1
Perusahaan X memperoleh 100% kepemilikan perusahaan C1 pada nilai buku. Maka perkiraan–perkiraan yang sifatnya resiprokal, yaitu Investment in C1 dan perkiraan ekuitas. Perusahaan C1 akan dihapus, sehingga modal saham dan laba ditahan yang muncul dalam neraca konsolidasi sama dengan perusahaan X.
Jika  perusahaan X memperoleh 100% kepemilikan dengan goodwill. Maka nilai kelebihan biaya yang dikeluarkan yang melebihi nilai buku atau nilai wajar, akan diakui sebagai goodwill.
Jurnal eliminasi yang dibuat :
Capital stock                      xxx
Retained earning                 xxx
Goodwill                            xxx
Investment in C1                       xxx
Kepemilikan 80% perusahaan C2
Perusahaan X mendapatkan kepemilikan 80% dengan Goodwill. Maka selisih antara biaya yang dikeluarkan dan nilai wajarnya akan diakui sebagai goodwill dan akan terdapat minority interest (hak minoritas).
Nilai buku (nilai wajar) yang diperoleh: % kepemilikan x nilai buku Goodwill yang diakui sebesar: Biaya dikurangi Nilai wajar yang diperoleh. Minority interest: Kepemilikan minoritas x Nilai buku.
Jurnal eliminasi yang dibuat :
Capital stock                      xxx
Retained earnings                xxx
Goodwill                            xxx
Investment in C2                       xxx
Minority interest                        xxx

E 5-6A
a.       Penjualan yang dilaporkan dan pendapatan Home Brite
Jika menggunakan metode current rate, laba translasi bervariasi mengikuti perubahan nilai tukar. Hal ini menyebabkan estimasi dampak translasi pada laporan laba rugi menjadi lebih mudah. Pos – pos dalam laporan laba rugi Home Brite yang dianggap terjadi secara merata sepanjang periode ditranslasikan pada nilai tukar rata-rata tertimbang sedangkan penyesuaian translasi disajikan dalam pendapatan komprehensif lainnya (PSAK 10) dan tidak mempengaruhi laba berjalan. Dalam kasus diatas, selama perusahaan memiliki anak perusahaan asing, maka metode current rate menangguhkan laba dan rugi translasi.
b.      Perhitungan keuntungan dan kerugian translasi
Keuntungan dan kerugian translasi diukur dari selisih (kelebihan dan kekurangan) antara aset moneter dan kewajiban moneter (yang dinyatakan pada nilai tukar kini). Tekanan translasi untuk pendekatan mata uang fungsional diukur dengan besarnya investasi bersih.
1.       Keuntungan dari translasi saldo awal asset bersih ditambahkan dengan keuntungan translasi dari kenaikan asset bersih (jika dolar melemah terhadap mata uang asing) pada periode tertentu.
2.       Kerugian dari translasi saldo awal asset bersih ditambahkan dengan kerugian translasi dari penurunan asset bersih (jika dolar menguat terhadap mata uang asing) pada periode tertentu.
c.       Pelaporan keuntungan dan kerugian translasi
Penggunaan translasi nilai tukar kini menghasilkan angka penyeimbang dalam neraca yang ditranslasi. Keuntungan translasi ditambahkan pada akun ekuitas penyesuaian translasi mata uang asing kumulatif dan kerugian translasi akan dikurangkan pada akun ekuitas penyesuaian translasi mata uang asing kumulatif. Perubahan nilai tukar tidak mempengaruhi akun yang ditranslasikan pada nilai tukar historis karena akun tersebut dinyatakan pada nilai dolar saat perolehan.